menyegerakan dan tergesa-gesa

10:36 PM

postingan dari web sebelah


Cintaku padamu sepanjang zaman

Tak lebih tak kurang oleh alasan

Cintaku tak beralasan kecuali keinginan mencinta

Cintaku tak bersebab yang dimengerti manusia

Jika cintamu tak beralasan selain ia yang kau cinta

Maka ia nyata, tak kan lenyap selamanya

Jika cintamu digerakkan oleh suatu alasan

Maka ia akan hilang bersama hilangnya alasan

Ibn Hazm El Andalusy


Harus kita akui memang, saat ini para ikhwah tengah dalam kondisi gamang bila dihadapkan dengan cinta dan pernikahan. Terkadang perasaan yang menggebu-gebu untuk "menyegerakan", bisa saja di tengah perjalanan dihembuskan oleh setan berubah menjadi "tergesa-gesa". Perbedaanya hanya satu, nafsu. Lantas apa yang mesti kita lakukan untuk mengetahui perbedaannya?


1. Periksa niat Antum
"Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya.." (al hadits)
Ada perumpaan untuk ini. Jika antum sedang mengendarai motor. Kemudian melalui jalan yang menikung. Apa yang akan antum lakukan? Apakah antum akan menancap gas terus dan memiringkan badan dengan risiko terjatuh? atau mengurangi kecepatan kemudian menarik gas perlahan sampai kecepatan awal dan sampai tujuan dengan selamat?
Jika antum memilih yang pertama berarti antum tergesa-gesa yang risikonya akan mengalami rasa sakit yang luar biasa. Sebaliknya jika antum memilih yang kedua berarti antum menyegerakan tanpa menunda-nunda untuk sampai ke tujuan.

2. Apakah antum sudah siap 99,99%?
Kesiapan tak hanya masalah fisik dan biologis, tetapi juga kematangan dalam ilmu dan kesiapan memenuhi nafkah (ana mengasumsikan kondisi ruhiyah antum di atas rata-rata). Tak perlu bergelar doktor untuk menikah, antum yang belum lulus menjadi sarjana pun bisa langsung menikah. Artinya bukan hanya kecerdasan intelektual yang harus dimiliki sebagai syarat untuk menikah, tetapi juga kecerdasan emosional, spiritual, dan sosial harus dimiliki oleh setiap ikhwah yang "mengaku" sudah siap untuk menikah. Selanjutnya kesiapan memenuhi nafkah. Inilah hikmah mengapa qadirun alal kasbi menjadi salah satu muwashofat yang harus dimiliki setiap ikhwah. Pernah suatu ketika ana berbincang dengan salah seorang al akh.
"Akhi, ana udah gak sabar nih pengen cepet-cepet nikah!" katanya dengan menggebu.
Ana bertanya balik, "Memang antum sudah siap?"
"Siap 100%!" masih menggebu.
"Ruhiyah?"
"Insya Allah!"
"Jasadiyah?"
"Antum bisa lihat kondisi fisik ana."
"Ilmu keluarga?"
"Wah, dihitung-hitung udah 5 seminar dan 3 workshop pra nikah ana ikuti."
"Maisyah?"
"Kok antum tau?"
"Tau apa?"
"Namanya.."
"Astaghfirullah.. maksud ana antum sudah punya penghasilan belum? Seenggaknya bisa ngidupin antum dan istri nanti."
"Mmm.. belum akh." hilang semangat.
Perbincangan di atas setidaknya bisa menjadi acuan bagi kita bahwa satu hal yang mesti menjadi perhatian ikhwah saat ini adalah maisyah, kesiapan untuk memenuhi nafkah keluarga. Ini dapat membedakan antara yang "menyegerakan" dengan "tergesa-gesa".

3. Bertanya Langsung pada Sang Pemilik Hati
Kalau dua hal di atas sudah antum lakukan dan ternyata masih belum puas juga, sekarang saatnya bertanya langsung pada Sang Pemilik Hati, Allah azza wa jalla. Dengan cara shalat qiyamul lail, memohon petunjuk untuk menetapkan hati dalam ketaatan kepada-Nya, sesuai dengan doa Rasulullah:
"Ya Allah yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hatiku dalam ketaatan kepada-Mu."
agar keputusan yang kita ambil bukan berasal dari ambisi pribadi (baca: bafsu). Namun langsung dari Allah yang Maha Pemberi Hidayah.

Semoga tulisan ini dapat membantu saudara-saudaraku yang sedang mengalami goncangan hati. Wallahu'alam bi shawab.


Salam penuh cinta,

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terimakasih sudah coment.. kalau bagus silahkan share tulisan ini... terimakaasihhh