wanted

January 22, 2009

Assalamu'alaikum wr. wb.,
Ikhwan wa Akhwat fillah,

Dari pengamatan atas pemberitaan di berbagai media, wa bil khusus media
Islam, saya merasakan bahwa kita, di Indonesia ini, punya banyak ahli fiqh,
namun ahli sains masih kurang. :-( Saya kira bila yang diurus hanya soal
fiqh, bangsa ini tidak akan maju-maju. Fiqh itu penuh interpretasi dan
karenanya penuh perbedaan pendapat. Kadang-kadang suatu kelompok dengan
fiqh tertentu meng-kafir-kan atau mem-bid'ah-kan kelompok yang lain yang
berbeda fiqh -- karena yang dipakai adalah mindset "holier-than- thou" --
siapa yang paling (tampak) benar. Egosentrisme, ashabiyah 'fanatik
golongan', dan membangga-banggakan ketaqwaannya lebih tampak daripada
kebenaran yang tadinya ingin diusung.

Kini bila disebut kata "ulama", sering kesannya adalah seseorang yang
"berpenampilan tertentu" yang cenderung mengatakan "yang ini haram dan yang
itu juga haram" -- dengan alasan demi kehati-hatian -- dengan mengabaikan
prinsip "memudahkan, namun tidak memudah-mudahkan" . Tentu saja,
kesan "menghambat kemajuan" menjadi sangat kuat. Keadaan seperti ini tentu
saja sulit diikuti oleh anak muda sekarang, anak-cucu kita yang cenderung
kepada sesuatu yang "menarik" daripada yang benar.

Ibadah pun terkadang dibagi jadi dua: "mahdhah" (ritual) dan "ghairu
mahdhah" (non-ritual) -- for some mysterious reasons. Seringnya, yang
ghairu mahdhah (seperti: bekerja) tidak dianggap sebagai ibadah. Jadinya ya,
kadang-kadang, shalat dhuha iya, namun korupsi juga iya -- lha wong waktu
"terima amplop" kan "sedang tidak ibadah". Tak heran berturut-turut nama
Al Amin ("yang terpercaya") , Bulyan Royyan ("pintu surga"), dan Yusuf (nabi
yang tak mempan godaan) Faisal digaruk KPK -- despite their "holy names".

Bukankah "ulama" itu jama' dari kata "alim", yang artinya "pandai"/"expert" ?
Pandai di suatu bidang apa saja tentunya -- tidak cuma fiqh. Yang lebih
penting lagi, hanya takut kepada Allah swt , seperti firman-Nya:
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba- Nya, hanyalah
ulama" [Fathir (35):28]. Jadi, yang "taqwa" kepada penjabat karena takut
tidak diberi proyek atau takut tidak diundang ceramah lagi itu bukan ulama.
:-)

Selain takutnya hanya kepada Allah, adalah termasuk ulama bila seseorang itu
bisa mengatasi krisis dengan bijak. Bisa bikin bangunan tinggi anti gempa,
atau menyelesaikan regional inequalities antara Jabodetabek dan daerah lain.
Atau menemukan anti HIV dan mengatasi global warming. Atau pandai bikin alat
buat menyadap oknum penjabat korup yang sering minta "transferan" kepada
rekanan pengusaha pada saat "menggiring proyek".

Summing up, kalau masih saja terlalu banyak "ulama fiqh" -- ya betul, mereka
juga tetap diperlukan -- yang lebih muncul ke permukaan daripada "ulama
sains ipteksosbudhankam" -- sampai yang bukan ahlinya juga ikut mengurus
fiqh -- boleh jadi kaum liberal yang pola pikirnya bebas, kelihatan funky,
dan modern -- walaupun mungkin aqidahnya tidak menentu -- bakal lebih
menarik untuk diikuti oleh kawula muda Islam daripada kaum yang tampak kuno
dan jumud yang cuma bisa berteriak "ini halal" dan "itu haram".
Mudah-mudahan kita bisa belajar dari Syekh Yusuf Qaradhawi, ulama yang dua
putrinya memperoleh gelar doktor masing-masing dalam bidang fisika nuklir
dan kimia dari Eropa.

Wallahu a'lam.

You Might Also Like

0 komentar

Terimakasih sudah coment.. kalau bagus silahkan share tulisan ini... terimakaasihhh