HAMAS menang@|!

February 04, 2009

Alasan HAMAS Memenangkan Perang Gaza



Sadarkah antum bahwa berita yang kita dapatkan dalam siaran berita di televisi maupun lembaran koran seluruh dunia seputar perang Gaza rata-rata banyak sekali yang mengekspos penderitaan bangsa Palestina. Di sisi lain sering kali kita perhatikan ditampilkannya kabar bahwa seolah-olah Israel

telah berhasil menang

dalam peperangan yang mereka kobarkan di Gaza. Kita berhusnudzan, barangkali

apa yang dilakukan media adalah cara mereka dalam memberi dukungan bagi

rakyat

Palestina. Semakin nampak penderitaan bangsa Palestina di hadapan dunia,

maka

otomatis akan semakin membangkitkan semangat pembelaan bagi rakyat

Palestina.



Namun nampaknya jarang sekali kita dengar kabar yang menggembirakan

atas bangsa Palestina selama perang 22 hari di Gaza. Tahukah antum bahwa

ternyata banyak sekali Allah turunkan pertolongan- Nya bagi rakyat Palestina

selama perang 22

hari itu. Apa yang akan saya ceritakan berikut tidak banyak diekspos oleh

media. Entah kenapa, atau mungkin karena apa yang mereka dapatkan

bukan berasal dari sumber utama para tentara pejuang kemerdekaan Palestina

(brigade izzudin al-qassam dan HAMAS).



Dalam salah satu acara malam penggalangan dana untuk Palestina, Ust. Hilmi

Aminudin bercerita tentang pengalaman beliau ketika mengantarkan

rombongan para penyalur bantuan dari rakyat Indonesia langsung ke pemerintah

HAMAS di Palestina. Alhamdulillah saya beruntung dapat mendengarkan cerita

beliau secara langsung, dan kemudian saya ceritakan kembali pada teman-teman

semua.



Selama kunjungannya di Palestina, Ust. Hilmi disambut langsung oleh para

petinggi HAMAS. Beliau disambut di perbatasan Raffah-Mesir. Beliau beserta

rombongan tidak diizinkan masuk ke Gaza oleh pemerintah Mesir dengan alasan

keamanan. Oleh karena itu, para petinggi HAMAS tersebut yang akhirnya

menghampiri perbatasan untuk melakukan dialog. Ust. Hilmi beserta rombongan

pada waktu itu membawa dana segar hasil pengumpulan dana dalam demonstrasi-

demonstrasi yang dilakukan bangsa Indonesia selama agresi Israel

berlangsung.

Alhamdulillah, total dana yang diberikan adalah sebesar 2 juta US dollar.

Seolah sambil sedikit bercanda, Ust. Hilmi mengatakan bahwa uang yang

terkumpul tersebut merupakan infaknya 'minal fukhoro wal masakin' (infaknya

orang-orang fakir dan miskin). Maksudnya tentu bukan merendahkan yang

memberikan

infak itu.

Melainkan memberi gambaran bahwa jika uang yang dikumpulkan dari hasil

demontrasi jalanan saja bisa sampai terkumpul 2 juta dollar, maka apalagi

jika

sudah melibatkan para agnia dan pengusaha? InsyaAllah dijamin jumlahnya akan

berlipat lebih besar lagi.



Dalam dialog yang berlangsung bersama para pemimpin HAMAS tersebut, Ust.

Hilmi

banyak mendapatkan cerita kondisi yang sebenarnya dialami oleh para

tentara al- qassam. Subhanallah. .. ternyata Allah telah banyak menurunkan

pertolongan dan lindungan-Nya selama perang berlangsung. Sangat banyak hal

yang secara akal tidak lah mungkin terjadi. Pertama, secara kesenjataan,

sudah sangat jelas bahwa perbandingan kekuatan persenjataan antara HAMAS dan

Israel

sangatlah jauh berbeda. Dalam sistem pertahanan kesenjataan, Israel

menempati urutan keempat di dunia setelah Amerika Serikat, China, dan

Inggris. Ini pun masih belum termasuk dengan bantuan militer yang diberikan

Amerika Serikat untuk mendukung persenjataan selama perang Gaza.



Menurut salah satu sumber, disebutkan bahwa untuk perang Gaza, Amerika telah

menyuplai persenjataan sebanyak lebih dari 60.000 ton. Bantuan itu dikirim

dalam ratusan buah kontainer besar. Bantuan senjata ini dipercaya sebagai

suplai senjata yang terbesar sepanjang sejarah persekongkolan

Amerika-Israel. Maka coba bandingkanlah dengan HAMAS hanya mempersenjatai

diri mereka dengan roket-roket berdaya jelajah menengah dengan daya rusak

yang tidak terlalu besar.



Kedua, jika dilihat dari besarnya pasukan, HAMAS hanya memiliki sekitar

15.000 personil. Sedangkan Israel memiliki 130.000 tentara aktif dan lebih

dari 400.000 tentara cadangan. Ketiga, dari segi medan pertempuran, Gaza

adalah kota yang terisolir. Sekelilingnya dibatasi oleh tembok-tembok

blokade sepanjang lebih dari 750 KM dengan tinggi 8 meter, dan di setiap 10

meternya telah siap tentara Israel di atas pos blokade yang siap menembak

mati siapapun warga Palestina yang mencoba mendekati tembok blockade

tersebut. Segala hal hampir membuat tidak masuk akal bagi pejuang Palestina

untuk memenangkan pertempuran.



Beberapa hari ke belakang kita menyaksikan sama-sama berita yang

menceritakan

aksi perayaan kemenangan yang dilakukan warga Palestina baik yang di

jalur Gaza maupun di tepi Barat. Bagi sebagian orang barangkali merasa

heran, kemenangan macam apakah itu? Bukankah sudah lebih dari 1.200 orang

menemui syahid, 5.000 lebih orang luka-luka, 13 masjid dibom, ribuan rumah

hancur, jalan dan sarana publik hancur total. Apakah ini yang disebut dengan

kemenangan? hal ini lah

yang tidak kita ketahui kebenaran yang sesungguhnya.



Setidaknya ada beberapa alasan yang membuat Palestina memenangkan

pertempuran.

Para petinggi HAMAS itu bercerita, sebenarnya serangan yang dilakukan Israel

awalnya direncakan hanya dalam 3 hari saja. Pertama kali mereka menyerang

melalui serangan udara pada tanggal 27 Desember 2008, seharusnya menurut

pemikiran mereka, akan dapat menguasai sepenuhnya Gaza dalam waktu tiga hari

saja (29 desember 2008). Mereka berencana hanya akan melakukan serangan

udara

selama 3 hari, tanpa serangan darat, lalu pada tanggal 30-31 Desember 2008

mereka akan melakukan persiapan perayaan kemenangan dan perayaan tahun baru

di

Gaza.



Dikabarkan juga pada akhir tahun 2008 tersebut, sebagian tamu undangan

yang rencananya akan menghadiri perayaan kemenangan Israel atas Gaza sudah

bersiap di perbatasan untuk selanjutnya dapat memasuki Gaza. Tapi ternyata

apa

yang mereka dapatkan sangat jauh dari apa yang mereka bayangkan. Justru

perlawanan yang sangat sengit dari pejuang HAMAS lah yang mereka dapatkan.

Hal

ini akhirnya memaksa zionis Israel untuk melakukan serangkaian serangan

sporadis ke seluruh target. Pertempuran yang awalnya hanya diperkirakan akan

dimenangkan Israel dalam waktu tiga hari, ternyata meleset sangat jauh dari

target.



Setelah perang melewati 10 hari serangan, tentara Israel mulai kehilangan

konsentrasi dan fokus serangan. Sehingga serangan yang awalnya ditargetkan

untuk menghancurkan basis-basis perlawanan HAMAS, akhirnya mulai berubah

menjadi target rakyat sipil. Tentara Israel mulai kehilangan arah sasaran.

Mereka tidak tahu lagi target mana yang harus mereka hancurkan. Dan

ternyata,

target-target bangunan yang Israel klaim di media merupakan basis HAMAS,

pada

kenyataannya itu tidak lain hanyalah bangunan yang kosong tidak berpenghuni,

atau bahkan malah target fasilitas publik dan sipil. Jika kita perhatikan

berita di media asing, Israel selalu berkilah bahwa target sipil yang mereka

hancurkan itu karena HAMAS sering menjadikan tempat-tempat macam itu sebagai

tempat perlindungan dan gudang persenjataan. Padahal yang sebenarnya itu

dilakukan Israel tidak lain hanya karena sudah bingung dan tidak tahu lagi

target serangan.



Kemudian salah satu pejabat HAMAS tersebut melanjutkan ceritanya kepada Ust.

Hilmi. Beliau menambahkan, bahwa ternyata pihak Israel sebelumnya telah

mempersiapkan pasukan elite mereka untuk berlatih sebelum serangan

dilakukan.

Jadi apa yang mereka lakukan itu tentunya bukan dilakukan dengan spontan,

melainkan sudah melalui perencanaan yang matang. Para pasukan khusus itu

dilatih di sebuah tempat yang kondisinya dibuat persis sama seperti keadaan

di

kota Gaza. Mulai dari bangunan, jalan-jalan, bahkan sampai gang-gang sempit,

semuanya dibuat mirip seperti kota Gaza. Ini diharapkan ketika mereka

melakukan serangan darat, maka sudah dapat mengetahui medan pertempuran

dengan sebaik- baiknya. Tetapi ternyata apa yang mereka dapatkan setelah

terjun langsung ke medan pertempuran yang sebenarnya? Ternyata apa yang

mereka dapatkan sungguh berbeda menurut pandangan mereka. Target yang

awalnya sudah mereka rencanakan dan dicurigai merupakan tempat persembunyian

tentara pejuang Palestina ternyata tidak pernah mereka temukan. Ketika

mereka masuk ke bangunan atau rumah yang awalnya mereka curigai sebagai

markas, ternyata tidak lain hanyalah sebuah rumah biasa milik penduduk

sipil.



Barangkali kita bertanya-bertanya dalam benak kita semua. Bagaimana mungkin

HAMAS tetap bisa menggalang kekuatan. Padahal sekeliling kota Gaza sudah

diblokade dengan tembok-tembok raksasa dan pos penjagaan di tiap perbatasan.

Dari mana mereka mendapatkan suplai untuk persenjataan mereka? Di luar

dugaan,

ternyata roket-roket yang dibuat HAMAS itu terbuat dari barang-barang bekas.

Rangka roketnya terbuat dari bekas tiang listrik, kabel-kabel sambungan

detonatornya terbuat dari kabel yang ada di rumah-rumah warga, bahan bakar

roketnya terbuat dari gula, dan hulu ledaknya terbuat dari kimia

sederhana yang mereka racik sedemikian rupa. Selain itu, suplai bahan baku

senjata

juga mereka dapatkan melalui ratusan terowongan yang mereka buat yang

melintasi

perbatasan.



Israel mengklaim bahwa mereka telah berhasil menghancurkan banyak terowongan

yang sering dimanfaatkan warga Gaza untuk transfer barang dari dan ke kota

Gaza. Tetapi yang perlu kita ketahui adalah ternyata apa yang berhasil

Israel

hancurkan itu hanya 200 terowongan dari total terowongan yang berjumlah 800

buah. Jadi setidaknya masih ada 600 terowongan yang tersisa dan belum

hancur.

Adapun terowongan yang sudah hancur tersebut, pihak HAMAS menyebutkan bahwa

mereka akan selesai memperbaikinya kembali hanya dalam 3 bulan.



Secara fisik, mungkin HAMAS lah yang paling banyak menderita kerugian. Namun

ini sama sekali bukanlah indikasi kekalahan HAMAS. Justru Israel lah yang

kalah! Betapa tidak, HAMAS telah membuat perlawanan yang sangat sengit

sehingga Israel melewati target lama pertempuran yang telah direncanakan,

dan akhirnya mundur dari Gaza tanpa syarat apa pun. Ingat... tanpa syarat

apapun!!! Justru pihak Israel lah yang pertama kali mengumumkan gencatan

senjata sepihak,

sementara pada saat itu HAMAS sama sekali menolak gencatan senjata dan terus

memberi perlawanan. Bahkan menurut kabar, lima menit sebelum Israel

mengumumkan gencatan senjata, HAMAS masih meluncurkan roketnya ke wilayah

Israel. Secara tersirat, HAMAS seolah ingin memberikan ancaman pada Israel

bahwa perlawanan mereka tidak pernah berhenti sedikit pun dan kondisi

persenjataan mereka masih dalam kondisi prima. Perlu ditambahkan juga bahwa

selama perang Gaza, HAMAS telah meluncurkan sekitar 900 roket, dan itu tidak

lebih hanya 1 % dari total jumlah roket yang mereka miliki.



Lebih jauh lagi, salah satu pejabat HAMAS tersebut menyampaikan bahwa mereka

sama sekali tidak membutuhkan kiriman pasukan mujahid dari negara mana pun.

Beliau mengatakan, "kami hanya kehilangan 48 orang mujahid selama perang

berlangsung, dan masih punya belasan ribu pasukan yang lain." Melalui Ust.

Hilmi, para pejuang HAMAS ingin mengucapkan rasa terimakasih dan rasa bangga

yang sebesar-besarnya atas apa yang telah diupayakan rakyat Indonesia. HAMAS

berharap bahwa kalaupun ada yang ingin memberikan bantuannya kepada

Palestina,

maka berikanlah bantuan itu dalam wujud bantuan kemanusiaan berupa makanan,

minuman, obat-obatan, pakaian, atau uang tunai. Karena sesungguhnya itu yang

lebih mereka butuhkan daripada mengirimkan bantuan pasukan jihad.



InsyaAllah.. . apa yang telah kita upayakan bersama ini untuk membantu

rakyat

Palestina bukanlah yang terakhir kali. Masih akan datang lagi

bantuan-bantuan

berikutnya. Pendistribusian bantuan yang dilakukan secara bertahap dan tidak

sekaligus memang bukan tanpa alasan. Ini dikarenakan pemerintah Mesir yang

berbatasan langsung dengan Gaza tidak mau untuk memberikan izin masuk

Gaza jika dilakukan secara besar-besaran. Salah satu pihak pejabat Mesir

mengatakan bahwa mereka tidak mau ambil risiko dengan pihak Israel. Sehingga

hal ini membuat kita untuk secara bertahap dan sedikit-sedikit dalam

menyalurkan bantuan ke Gaza.



Barangkali perlu juga menjadi catatan bagi kita, bahwa ternyata aksi-aksi

yang kita lakukan selama ini ternyata adalah aksi terbesar di selurh dunia.

Di saat saudara-saudara kita di belahan dunia lain harus dikejar-kejar

polisi dan dijaga ribuan aparat setiap melakukan aksi solidaritas, lain

halnya dengan apa yang kita lakukan di Indonesia. Semangat pembelaan

terhadap bangsa Palestina harus terus kita gelorakan di bumi manapun kita

berada. Jangan pernah berhenti hingga yahudi laknatullah itu pergi dari bumi

jajahan mereka, dan Palestina terbebaskan sepenuhnya dari cengkraman yahudi.

Allahu akbar!!!

You Might Also Like

0 komentar

Terimakasih sudah coment.. kalau bagus silahkan share tulisan ini... terimakaasihhh