Backpacker ke Pulau Seribu cuma 100ribu (Part3 Terakhir) : Sekali Ojek 3 Pulau Terlampaui

2:07 AM



Mungkin bagi sebagian orang ngetrip nyaman itu adalah impian tapi bagi gue jalan-jalan adalah sebuah tantangan. Bagaimana kita bisa survive dengan yang ada. Pernah beberapa kali tidur di pinggir jalan atau numpang tidur di loby hotel. Tidak selamanya gue kaya gitu. Pernah kok tidur di hotel atau sekedar numpang nginep di rumah temen. Ok lanjut sekuel gue tentang Backpacker ke Pulau Seribu yang part 1 dan 2 udah tayang harus di selesaikan.


Sahutan adzan subuh berkumandang di pulau Harapan, nampaknya gue tertidur lumayan pulas malam itu walau hanya beralaskan flysheet si mba. Subuh itu gue bergegas ke masjid untuk sholat subuh sekalian juga bersih-bersih dan cuci muka biar ganteng.  Caca gue bangunin, dia tidur di hammock tapi dia menyuruh gue duluan karena dia masih ngantuk. Sehabis sholat, gue mencharge hp dan ngobrol-ngobrol sama marbot mesjid apa yang bisa di eksplor di pulau ini.

Sambil menunggu caca datang gue membuat ittenary mau kemana hari ini, karena kapal ferry baru berangkat jam 11 siang. Masih ada waktu 5 jam lagi sampai siang akhirnya gue bikin rencana ke penangkaran penyu, menyusuri pulau kelapa dan kelapa dua yang katanya banyak warga dari bugis dengan khas rumah panggungnya. Jam 5.30 caca menyusul ke masjid dan dia sholat dulu lalu bersih-bersih.




Pagi itu sebenarnya kami kelaparan tapi saat ngecek duit hanya cukup untuk pulang dan main ke pulau Kelapa Dua serta masuk ke penangkaran penyu. Bahkan gue berbisik ke caca “ ca kalo duit gue abis pinjem ya”. Untuk mengganjal perut beruntung banget gue bawa beng-beng sisaan dari jalan ke pulau merak  dan gue beli air panas seharga Rp. 2000 untuk buat kopi dan di masukkan ke dalam botol. Sambil menikmati sunrise di pinggir dermaga kami menikmati secangkir sebotol kopi. Mentari sudah sedikit naik akhirnya kami berdua kembali menyusuri jalanan sempit menuju penangkaran penyu.


Menggunakan GPS (gunakan Penduduk Sekitar) akhirnya kami sampai ke penangkaran penyu. Penangkaran ini ternyata terletak dekat tempat waktu itu gue sama ID corners makan malam, patokan menuju ke penangkaran ini tinggal jalan kaki menuju TPU (Tempat Pemakaman Umum) dan sebelumnya sudah terlihat plang tanda tempat penangkaran tepat di sebelah kiri. Kami menjadi yang pertama masuk ke dalam penangkaran ini. Membayar Rp. 5000 rupiah ekspetasi kami agak kecewa karena tempatnya agak kecil namun terbantu penangkaran penyu langsung ke laut lepas jadi cukup puas duduk sambil melihat laut dan penyu di bawah jembatan.



Menurut bapak penjaga bahwa hanya ada 3 penangkaran penyu di pulau seribu, yaitu di pulau Pramuka, pulau Harapan dan Pulau Kelapa Dua. Telur-telur penyu ini biasa di dapat di sekitar gugusan sekita Pulau Harapan seperti di pulau Petelur barat ,Timur,  Gosong Rengat, Pancalira barat, Kayu angin dan Bira. Pada nantinya telur-telur ini akan ditetaskan, setelah menetas lalu  tukik-tukik ini akan di bebaskan ke alam bebas. Untuk teman-teman yang mau melakukan pelepasan penyu juga bisa tetapi harus izin dahulu ke badan konservasi laut kehutanan di Salemba.

Sambil santai dan duduk manis melihat-melihat penyu yang berenang di laut kami berdua merencakanan ittenary berikutnya. Akhirnya kami berdua memutuskan ke pulau Kelapa Dua, pulau ini terletak di seberang pulau Harapan dan dapat di akses melalui ojek perahu melalu Pulau Kelapa. Akhirnya kami berjalan menyusuri jalan menuju pulau Kelapa yang bisa di tempuh kurang lebih 5km.


Pulau Kelapa dengan Pulau Harapan mungkin susunan bangunan dan penduduknya masih sama, namun di Pulau Kelapa ini jarang ada homestay sedangkan di pulau Harapan sudah banyak tersedia. Pulau Kelapa ini agak padat rumahnya dan banyak gang. Setelah bertanya-tanya akhirnya kami menemukan dermaga untuk menyebrang. Eits waktu itu gue bingung kok tidak ada perahu untuk nyebrang ya?,

celingak-celinguk akhirnya tanya sama orang yang lagi mancing : “pak kapalnya dimana??”

Pemancing : “ berdiri aja di dermaga situ sambil melambaikan tangan, perahunya lagi di seberang” tak beberapa lama kemudian perahu ojek sampai.

Saat di ojek di tanya mau langsung ke kantor apa ke dermaga?? Karena gue mau liat-liat suasan rumah di Pulau Kelapa Dua kita turun di dermaga. Perjalanan menuju pulau Kelapa Dua memakan waktu kurang lebih 5 menit. Menurut supir ojek, Pulau Kelapa Dua penduduknya kebanyakan dari suku bugis dan kelihatan dari deretan rumah panggung dan cat yang warna-warni. Melihat pemandangan ini saya jadi inget dengan ToliToli dan pulau lutungan dengan lingayan merupakan salah satu daerah di Sulawesi yang rata-rata penduduknya suku bugis.


Kami berjalan menyusuri deretan rumah panggung khas bugis menuju tempat penangkaran penyu di ujung pulau ini. Sampai disana ternyata masih sepi dan di tutup, mau masuk tapi karena tempatnya hampir sama dengan penangkaran penyu di Pulau Harapan hanya beda disini penyu di taruh di ruangan tidak di tepi laut. Tidak jadi masuk ke penangkaran kami tertuju terhadap barisan pohon bakau di sebelah kanan bangunan penangkaran ini.


Tanaman bakau yang berfungsi sebagai pelindung dari abrasi ini masih belum besar namun tertata rapih, sangat enak di pandang dan yang pasti bagus untuk poto-poto. Puas poto-poto dan bersantai sejenak di pinggir jembatan kayu yang berada di tengah pohon-pohon bakau kami melanjutkan kembali berjalan. Berangkat kami melewati barisan rumah-rumah panggung pulangnya kami melalui pinggiran pantai untuk menuju dermaga, di sepanjang ini banyak para pembuat perahu-perahu.


Kembali naek ojek kembali ke pulau Kelapa jam sudah menujukan setengah sepuluh kami bergegas menuju ke dermaga kapal ferry. Sampai disana sudah banyak penumpang yang akan menaiki kapal ferry, namun kapal belum bisa untuk di masukin. Setelah menunggu 15 menit kami di perbolehkan masuk dan kami berdua akhirnya menuju bawah. Menuju tempat tidur karena udah sepakat untuk cari kasur saja karena sudah tidak ada yang mau di lihat di atas kapal hari saat pulang. Tepat jam 11 lebih stom 3 kali kapal berbunyi, tanda kapal akan berangkat dan gue memilih tidur sampai dermaga Sunda Kelapa. Sampai di Sunda Kelapa tepat jam 16.00 tidak ada terlambat. Ternyata di Sunda Kelapa sudah ada busway yang menunggu untuk menuju shelter terdekat, gue memilih ini agar langsung turun ke pulogadung.



Arghh selesai juga sekuel tentang backpacker gue ini. berikut gue bikin table berapa pengeluaran yang gue keluarkan untuk backpacker ini.
1.                   
Ongkos Mikrolet- Stasiun Klender
Rp. 3000
2.                   
Comutter Line Klender-Kota
Rp. 3000
3.                   
Ongkos Angkot Kota –Sunda kelapa
Rp. 4000
4.                   
Tiket Masuk Sunda Kelapa
Rp.   2500
5.                   
Tiket Kapal Sabuk Nusatara 66 PP
Rp   30.000
6.                   
Kapal Hooping Island
Rp.  20.000
7.                   
Makan Siang dan Malem
Rp.  40.000
8.                   
Tiket Masuk Penangkaran Penyu
Rp. 5000
9.                   
Kapal Ojek Pulau Kelapa Dua PP
Rp. 5000
10.               
Air Panas
Rp. 2000
11
Ongkos Busway
Rp. 3500


Total Rp. 117.000

Ternyata pengeluaran lebih dari seratus ribu, beruntung ada caca yang bawa duit agak lebihan jadi gue bisa pinjem duitnya supaya bisa pulang ke rumah. Berminat untuk traveling?? Atau Backpackeran Low Cost? Yuk di coba…
ini link yang
Part 1

Part 2

  • Share:

You Might Also Like

11 comments

  1. Yukkkk
    Thanks ade nduttt lucu inpoh yaaa

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Jangan di pasang ya mbaaa 😂😂😂

      Delete
  3. Replies
    1. Kamu kapan ga sibuknya tante.. ayolah kuy kapan2

      Delete
  4. 17 rebu selisihnya, sama temen mah cincailah. Gue mau nyoba neh. Temenin dong, doel!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tanggal 23-24 september mau main d pramuka mba.. niat mau ke pulau panggang atau ya eksplor d skitar situ.. kuy mba donn

      Delete
  5. Wah boleh dicoba nih. Thx u Bang Doel

    ReplyDelete
  6. Keren banget 17.000 uang yg harus di bayar dari rencana. Penyu bagus Banget Dan lucu..

    ReplyDelete

Terimakasih sudah coment.. kalau bagus silahkan share tulisan ini... terimakaasihhh