Sanitasi Aman, Sudahkah??

November 23, 2019


Sanitasi aman??
Kepikiran ga sih kalian tentang sanitasi ini dirumah? Pasti bingung kan apaan sh sanitasi ini. sanitasi adalah perilaku manusia dalam menjaga kebersihannya. Nah menurut kalian sudah bersihkah lingkungan kita?


Pernah tidak melihat orang BAB terus masukin ke plastic dan buang ke rawa-rawa atau pernah buang air besar sembarangan? Kalau Bang Doel sih pernah. Yaa maklum dulu saat tugas di daerah pedalaman hal ini sudah tak asing lagi bagi saya. Apalagi saat di pulau terluar pernah kepepet BABS di laut. Jangan di tiru yaaa

Hari selasa 19 november 2019 kemarin kebetulan Bang Doel hadir di daerah tebet untuk mendengarkan masalah sanitasi ini. Hadir sebagai pembicara Ika Fransisca – Advisor Bidang Pemasaran dan Perubahan Perilaku USAID IUWASH PLUS, DR. Subekti SE.,MM – Direktur Utama PD PAL JAYA, Zaidah Umami – Bidang Kesehatan Lingkungan, Puskesmas Kecamatan Tebet. Oh iya selain itu Bang Doel juga di ajak mengunjungi rumah warga yang dapat bantuan dari USAID ini loh

Menurut bu Frassiska “ pada tahun 2018, akses sanitasi ke toilet atau jamban mencapai lebih dari 74,5%, termasuk 7% sanitasi aman”. Namun, pencapaian ini tidak dibarengi oleh penurunan penyakit diare dan stunting. Pada tahun 2018, rata-rata kejadian diare di Indonesia mencapai 7%, dan tingkat stunting masih di atas 30%. Dan pada tahun 2017, Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan bahwa 75% sungai di Indonesia tercemar, 60% polutan disumbangkan oleh air limbah domestik yang tidak diolah.

Parah juga ternyata ya Indonesia.

Mungkin orang-orang Indonesia masih berpikiran bahwa urusan ini urusan belakang. Jadi lupa bahwa hal ini sangat penting. Apalagi kalau pembuangannya tidak baik. Pemakaian septic tank untuk pembuangan juga harus diperiksa karena bisa mempengaruhi kualitas air tanah disekitar rumah kita. Minimal jarak septic tank dengan sumur itu 10 meter. Hmm sudah belum ya rumah kita??

Sudah sanitasinya aman belum neh rumah kita??

Sanitasi aman merupakan sistem sanitasi yang memutus sumber pencemaran limbah domestik ke sumber air. Sanitasi aman mencakup penampungan air limbah domestik di tangki septik yang sesuai SNI, penyedotan/transportasi lumpur tinja sampai ke unit pengolahan, serta unit pengolahan limbah (IPLT) yang berfungsi. Program Cuci Tangan Pakai Sabun juga perlu diterapkan untuk memperbaiki tingkat kebersihan (higiene) masyarakat.

Menurut bapak Subekti dari PAL JAYA “ Jakarta sendiri untuk pengolahan limbah ini sudah ada dua tempat yaitu di Duri Kosambi dan Pulo Gebang. Namun dua tempat pengolahan limbah ini belom terlalu bisa menampung banyak”. Keberadaan pengolahan limbah ini dapat membantu kita untuk menangulangi masalah limbah. Hampir setiap hari mobil tanki menyedot dan membuangnya ketempat ini. Namun bila yang dari swasta masih ada yang membandel membuang limbah ke sungai.

Cakupan layanan PD PAL Jaya meliputi seluruh wilayah DKI Jakarta. Dengan diterbitkannya Perda 3 Tahun 2013 PD PAL Jaya mulai mengembangkan Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (LLTT) yang sebelumnya dikelola Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta berdasarkan permintaan.

Menurut Ibu Zaidah Sanitarian dari Puskemas tebet,  di Tebet sendiri masih banyak warga yang belum banyak mempunyai septic tank. Banyak warga yang langsung mengalirkan pembuangannya ke sungai di belakang rumahnya. Namun semenjak tahun 2019 ini sudah banyak warga yang peduli terhadap lingkungannya.


Salah satu warga tebet timur yang membangun septic tank ini adalah bu wiwik. Menurut bu Wiwi beliau awalnya membangun bersama dan tidak mengetahui tentang program barengan septic tank komunal. Beliau menghabiskan hampir 5 juta untuk membangun satu septic tank di rumahnya.

Selain itu USAID bersama Asian Pulp SInar Mas juga membangun septic tank komunal. Pembangunan ini sudah jadi dari bulan oktober 2019. Untuk septic tank komunal ini menampung sekitar 177 jiwa atau 30 an KK di RW 10 tebet timur ini. Menurut Pak RT 10 “awalnya sulit meyakinkan masyarakat untuk bergabung, padahal IPAL ini didanai oleh CSR sebuah perusahaan multinasional. Menurut Pak Susanto, enggannya masyarakat bergabung dengan IPAL karena mereka harus membongkar dan meninggikan WC mereka, yang artinya mereka harus mengeluarkan biaya”

Di seluruh Indonesia, program ini meningkatkan layanan rumah tangga, seperti ketersediaan air perpipaan dan toilet yang dilengkapi tangki septik di rumah. Dengan sektor swasta, proyek ini memfasilitasi pinjaman pembiayaan mikro dan subsidi agar lebih banyak masyarakat dapat terhubung dengan sistem perpipaan dan sistem pengangkutan lumpur tinja. Di tingkat daerah, USAID IUWASH PLUS membantu pemerintah daerah mengelola lumpur tinja dengan lebih baik. Di tingkat nasional, USAID IUWASH PLUS menguatkan kapasitas Pemerintah Indonesia, forum dan kelompok kerja WASH untuk lebih mampu melakukan advokasi dan mengoordinasi layanan WASH yang lebih baik

Jadi gimana? Rumah Kalian sudah septic tank? Atau sanitasinya sudah baik?




You Might Also Like

0 komentar

Terimakasih sudah coment.. kalau bagus silahkan share tulisan ini... terimakaasihhh