Semuanya bermula dari sebuah sore yang cerah di lapangan hijau. Sebagai pencinta sepak bola, atmosfer pertandingan sore itu terasa sangat bersemangat. Namun, dalam satu momen perebutan bola yang intens, saya kehilangan keseimbangan. Salah tumpuan saat mendarat membuat lutut saya mengeluarkan bunyi "krak" yang cukup keras, disusul dengan rasa nyeri hebat yang menjalar ke seluruh kaki. Saat itu juga, saya tahu ini bukan sekadar jatuh biasa.
Langkah Awal: Ruang Rontgen
Setelah dibantu rekan tim keluar lapangan, rasa nyeri tersebut tidak kunjung reda bahkan setelah dikompres es. Keesokan harinya, saya memutuskan untuk mengunjungi klinik terdekat. Dokter umum yang memeriksa langsung menyarankan tindakan Rontgen untuk memastikan tidak ada tulang yang patah atau retak. Hasil rontgen memang menunjukkan tulang saya masih utuh, namun pembengkakan yang tidak wajar membuat dokter merasa ada sesuatu yang lebih serius pada jaringan lunak atau ligamen saya.
Perjalanan ke RS Jakarta
Karena fasilitas yang terbatas, saya mendapatkan surat rujukan untuk ditangani oleh spesialis yang lebih ahli di Rumah Sakit Jakarta. Jujur saja, ada rasa cemas yang menggelayut sepanjang perjalanan. Bayangan harus absen lama dari hobi favorit mulai menghantui pikiran. Begitu sampai di sana, suasana rumah sakit yang profesional sedikit menenangkan hati, meskipun langkah saya masih harus tertatih menggunakan bantuan tongkat.
Bertemu Sang Spesialis Orthopedi
Di RS Jakarta, saya ditangani oleh seorang Dokter Spesialis Orthopedi. Pemeriksaan berlangsung sangat detail. Dokter melakukan beberapa tes fisik (seperti menarik dan menggeser posisi lutut) untuk mengecek stabilitas sendi. Beliau menjelaskan bahwa Rontgen saja tidak cukup untuk melihat kerusakan pada ligamen seperti ACL atau Meniskus. "Kita perlu melihat apa yang terjadi di dalam sana secara lebih jelas," ujarnya dengan tenang namun tegas.
Jawaban di Ruang MRI
Instruksi selanjutnya adalah pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging). Pengalaman masuk ke dalam mesin tabung besar tersebut terasa cukup menegangkan, namun ini adalah kunci dari semua teka-teki rasa sakit saya. Melalui hasil pemindaian MRI, dokter akhirnya bisa melihat detail jaringan, otot, dan ligamen dengan akurasi tinggi. Hasil inilah yang nantinya menentukan apakah saya cukup menjalani fisioterapi atau harus naik ke meja operasi.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi saya bahwa cedera olahraga jangan pernah dianggap remeh. Meski rindu merumput, kesehatan jangka panjang jauh lebih utama daripada sekadar memaksakan diri kembali ke lapangan sebelum benar-benar pulih.
