ilmu??

December 19, 2008

Berikut ini saya kutipkan tulisan dari buku "Pengantar Studi Ilmu
Al-Quran" karangan Syaikh Manna Khalil Al-Qaththan khususnya dari Bab
III tentang Wahyu.

=====

Perkembangan dunia ilmu telah maju dengan pesat, dan cahayanyapun
menerangi segala keraguan yang selama ini meliputi diri manusia
tentang masalah apa di balik materi (alam ruh). Materialisme yang
selama ini meletakkan segalanya di bawah bentuk percobaan dan
eksperimen, mulai percaya terhadap dunia gaib yang berada di balik
dunia nyata ini, bahwa alam gaib itu lebih rumit dan lebih dalam
daripada alam nyata, dan bahwa sebagian besar penemuan modern
menjadikan pikiran manusia menyingkap rahasia yang tersembunyi, yang
hakekatnya tidak bisa dipahami oleh ilmu itu sendiri, meskipun
pengaruh dan gejalanya bisa diamati. Yang demikian ini telah
mendekatkan jarak antara kepada pengingkaran terhadap agama-agama dan
keimanan. Itu relevan dengan firman Allah Azza wa Jalla,

"Akan kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di
segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi
mereka bahwa Al-Quran itu benar adanya" (Fushilat: 53)

"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" (Al-Isra: 85)

=====

Bagi Allah, bukan hal yang sulit dalam memilih di antara
hamba-hamba- Nya, manusia yang memiliki jiwa jernih dan kodrati yang
siap menerima sinar Ilahi, wahyu dari langit, dapat berinteraksi
dengan makhluk yang lebih tinggi, agar kepadanya diberikan suatu
risalah yang dapat memenuhi keperluan manusia, ketinggian rasa,
keluhuran budi dan kekokohan dalam menjalankan hukum. Mereka itulah
para rasul dan nabi Allah.

Maka tidaklah aneh bila mereka dapat berhubungan dengan wahyu yang
datang dari langit.

Manusia kini menyaksikan adanya hipnotisme yang menjelaskan bahwa
hubungan jiwa manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi itu,
menimbulkan pengaruh yang bisa mengantarkan orang kepada pemahaman
tentang fenomena wahyu. Orang yang berkemampuan lebih kuat dapat
memaksakan kemauannya kepada orang yang lebih lemah; sehingga yang
lemah ini tertidur pulas, kemudian menuruti apa yang menjadi
kehendaknya sesuai dengan isyarat yang diberikan, maka mengalirlah
semua itu ke dalam hati dan lidahnya. Apabila ini yang diperbuat
manusia terhadap sesama manusia, bagaimana pula dengan yang jauh lebih
kuat dari manusia itu?

Sekarang orang dapat mendengar percakapan yang direkam dan dibawa oleh
gelombang eter, menyeberangi lembah dan dataran tinggi, daratan dan
lautan tanpa melihat si pembicara, bahkan sesudah mereka wafat
sekalipun. Kini dua orang dapat berbicara melalui telpon, sekalipun
seorang berada di ujung timur dan yang lain di ujung barat, dan
terkadang pula keduanya saling melihat dalam percakapan itu, sementara
orang-orang yang duduk di sekitarnya tidak mendengar apa-apa selain
seperti suara lebah, persis seperti dengingan di waktu turun wahyu.

Siapakah di antara kita yang tidak pernah mengalami dialog dengan diri
sendiri, baik dalam keadaan sadar atau dalam keadaan tidur tanpa harus
melihat apa yang diajak bicara di hadapannya?

Yang demikian ini, juga contoh-contoh lain yang serupa cukup yang
dapat menjelaskan kepada kita tentang hakekat wahyu.

=====

"Patutkah manusia merasa heran dengan sebab Kami telah mewahyukan
kepada seorang laki-laki dari antara mereka; Berilah peringatan kepada
umat manusia (yang ingkar), dan sampaikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang beriman, bahwa bagi mereka kedudukan yang sungguh
mulia di sisi Tuhan mereka. (Setelah Nabi Muhammad datang kepada
mereka), berkatalah orang-orang kafir (yang merasa heran) itu,
'Sesungguhnya (Muhammad) ini tukang sihir yang nyata'" (Yunus: 2)

=====

Dari berbagai kutipan di atas dan dari keseluruhan bab tersebut, saya
pribadi mencoba menyimpulkan (membangun map saya) dengan beberapa
catatan sebagai berikut:

1. Bahwasanya, semua ilmu dan pengetahuan sebagai hasil dari olah akal
(cipta, rasa, dan karsa), semestinya membuat kita beriman dan makin
beriman kepada Allah SWT, beriman kepada Al-Quran (sebagai wahyu Allah
SWT), beriman kepada para malaikat, dan beriman para kepada Rasul.
Takdir Allah SWT dan hari akhir, juga harus diimani tanpa terjangkau
oleh ilmu dan pengetahuan.

2. Bahwasanya, mempelajari NLP dan Hypnosis juga dalam kerangka yang
sama, selain sekedar dipraktekkan dalam kehidupan dunia untuk membantu
diri sendiri dan sesama.

3. Bahwasanya, dunia NLP dan Hypnosis berpeluang bisa membantu
memahami berbagai tanda-tanda kekuasaan Allah SWT "pada diri mereka
sendiri" sehingga menjelaskan bahwa Al-Quran itu benar adanya
(sebagaimana yang telah dicapai oleh ilmu alam, ilmu kedokteran, ilmu
kimia, ilmu biologi, ilmu psikologi, ilmu fisika dan sebagainya).

4. Bahwasanya, wahyu Allah SWT:

- Diturunkan melalui malaikat, di mana Rasul kemudian "berkontak" dengannya.

- Diturunkan tanpa perantara, dalam bentuk mimpi yang benar.

- Diturunkan dengan Allah SWT berbicara secara langsung (kepada Nabi
Musa As), kecuali dalam pewahyuan Al-Quran.

- Diturunkan melalui suara (lonceng, kepak sayap malaikat, langsung di
telinga), atau bahasa tubuh (berkeringat atau ekspresi tertentu).

- Diturunkan dengan penampakan dari malaikat sebagai seorang laki-laki.

- Diturunkan hanya kepada manusia dengan kriteria tertentu guna
meneruskannya kepada umat manusia.

- Adalah informasi dalam bentuk isyarat tersembunyi dan cepat.

- Sama sekali berbeda dari ilham.

- Sama sekali berbeda dari kasyaf atau suara hati.

- Sama sekali berbeda dari intuisi atau perasaan.

- Sama sekali berbeda dari pendapat pribadi atau opini.

- Tidak diterima melalui "guru".

- Telah menyatakan bahwa Rasul tidak mengetahui perkara gaib.

- Telah menyatakan bahwa Rasul tidak sedikitpun berkuasa atas dirinya
(kecuali yang dikehendaki Allah SWT).

5. Bahwasanya pembelajar dan praktisi NLP dan Hypnosis, di tingkat
tertentu berpeluang untuk sedikit menyingkap berbagai hal yang
merambah wilayah spiritual, yang dengan itu berpotensi mengarah pada
konsekuensi sebagai berikut:

a. Makin beriman kepada Allah SWT, dengan meningkatnya pemahaman dan
kejelasan tentang berbagai fenomena spiritual seperti wahyu, dan
tentang bagaimana seorang Rasul yang notabene "manusia juga", bisa
menerima wahyu.

b. Mempertahankan akidah Islam, terkait atau dalam memahami dan
mengidentifikasi berbagai fenomena, yang sedikit terkuak, terpahami,
dan terjelaskan (de-mistifikasi) lewat NLP dan Hypnosis seperti:

- Bagaimana seorang anak manusia bisa mengaku-aku sebagai nabi,
malaikat, atau bahkan Tuhan.

- Bagaimana seorang anak manusia bisa mengaku-aku menerima wahyu
dengan berbagai cara di atas atau dengan cara lain.

- Bagaimana segolongan orang terjebak dalam aliran "new age" yang
menjadikan manusia sebagai pusat segala sesuatu, dan menganggap
manusia sebagai penguasa mutlak alam semesta (The Secret, The Law of
Attraction, dsb).

- Bagaimana segolongan orang terjebak dalam "atheisme" dan "sekulerisme" .

- Bagaimana fenomena "tenaga dalam" bisa diaplikasikan di dunia modern
(berjalan di atas api, firewalk, dilukai tapi tidak sakit, debus,
berjalan di atas beling, dsb).

- Praktek perdukunan, ramal-meramal, pesugihan, dan nujum yang berbau
syirik, komunikasi dengan arwah, sulap, magic, dan bahkan sihir.

- Kharisma (keramat, karomah), komunikasi persuasif, komunikasi
kharismatik, komunikasi hipnotic yang diwarnai kesyirikan.

- Praktek hipnotisme untuk kejahatan (gendam, pelet, magnetisme,
pemerkosaan, perampokan, dsb).

- Fenomena "bawah sadar" yang kebablasan menjadi "hilang akal".

- Berbagai fenomena kesyirikan lain.

c. ATAU SEBALIKNYA, merusak dan menggadaikan akidah, akibat
praktek-praktek "meta" dan "spiritual" yang tidak berhati-hati, yang
mungkin bisa terjadi dalam dunia NLP dan Hypnosis. Seseorang bisa
tergelincir akidahnya akibat berbagai praktek "meta" dan spiritual
yang demikian (dengan dan terlebih lagi tanpa pemahaman tentang NLP
dan Hypnosis), sebagaimana contoh-contoh di atas (naudzubillahi min
dzaalik!).

6. Bahwasanya dengan konsekuensi yang amat berseberangan tersebut,
para pembelajar dan praktisi NLP dan Hypnosis perlu menjaga akidahnya
dan memagari dirinya agar tetap berada di wilayah NLP dan Hypnosis
yang sesuai akidah Islam. Inilah yang menjadi landasan utama pemikiran
Islamic NLP.

Saat kita melihat terjadinya berbagai fenomena sebagaimana
contoh-contoh di atas (poin 5.b.), kita bisa melihat bahwa pelakunya
ada yang muslim dan ada pula yang bukan muslim. Yang pelakunya muslim,
bukan tidak mungkin tetap mengklaim berakidah Islam, menyembah Allah
SWT, dan tetap menjalankan berbagai syariat Islam.

Kepada mereka kita bisa memberi cap "kafir", "sudah kufur", atau
sekedar "kurang iman" dan "lemah akidah". Terhadap mereka, kita bisa
memilih di level mana kita perlu memerangi "manusianya" habis-habisan
sampai ke akar-akarnya, dan di level mana kita memutuskan bahwa yang
perlu kita perangi adalah "pola pikirnya". Pada level tertentu juga,
kita cukup yakin; jika saja mereka mau belajar NLP dan Hypnosis,
sangat mungkin itu akan sangat membantu mereka dalam membuka jalan
untuk kembali ke "jalan yang benar".

Di sisi yang lain, jika kita adalah pembelajar dan praktisi NLP dan
Hypnosis, kita pun tidak bisa mengklaim bahwa akidah kita "sudah aman"
bukan?

Maka, pilihannya adalah:

1. Meninggalkan NLP dan Hypnosis sama sekali (atau bahkan
mengharamkannya) , dan kemudian melihat bagaimana NLP dan Hypnosis
termanfaatkan oleh "orang lain" (secara sengaja atau tidak sengaja)
dan berdampak merusak atau melemahkan akidah (lihat berbagai tayangan
di televisi dan di bioskop sebagai contoh).

2. Tetap mempelajari NLP dan Hypnosis dengan melihat dampak positif
dan netralitasnya sebagai ilmu Allah SWT (karena NLP dan Hypnosis
lahir dari pikiran manusia, dan karena manusia adalah ciptaan Allah
SWT yang Maha Tahu apa yang di belakang, di dalam, dan di depan
manusia) dengan tetap berpegang teguh pada akidah Islam.

NLP dan Hypnosis sangat powerful sebagai tool dan materi pembelajaran.
Keduanya netral sebagai ilmu Allah SWT. Keduanya bisa "mendekatkan"
kepada iman, bisa bermanfaat untuk akidah, bisa bermanfaat untuk
membantu sesama, bisa bermanfaat untuk "self mastery" atau menjadi
"technology of achievement" khususnya di dunia. Atau sebaliknya,
keduanya juga bisa menjerumuskan kita ke lembah kenistaan. Lebih dari
itu kita harus mengakui:

"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" (Al-Isra: 85)

Wallahua'lam. Mohon koreksi bila ada kesalahan.

You Might Also Like

0 komentar

Terimakasih sudah coment.. kalau bagus silahkan share tulisan ini... terimakaasihhh