Buku "Lima Hutan Satu Cerita" Mengajak Kita Melihat Hutan Sosial Lebih Dekat

April 08, 2019

perHutanan sosial? Mungkin kita baru mendengar tentang kata ini. Namun semenjak 5 tahun belakangan perhutanan sosial menjadi buah bibir. Wajar saja hutan yang biasanya diperuntukan untuk perusahaan-perusahaan sekarang mulai dikembangkan oleh kelompok-kelompok masyarakat. Ada sekitar 12,7 hektar hutan sosial namun hingga 2018 hanya 2,5 hektar yang mulai dikelola. 

Bagaimana kita tahu tentang hutan sosial ini? Apa dan yang dihasilkan oleh masyarakat pengelola hutan sosial ini. Tentang hutan sosial ini diulas di buku “Lima hutan Satu cerita”. Buku yang dikarang oleh Tosca Santoso, seorang jurnalis yang juga pegiat lingkungan bagi percepatan program Perhutanan Sosial.

Hari jumat yang lalu buku ini di bedah oleh yang punya “hutan” di Indonesia yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutan (KLHK). Dalam diskusi bedah buku yang berjudul “Ngobrolin Hutan Sosial; Bedah Buku 5 hutan 1 cerita”. Diskusi ini diisi oleh pemateri yang kece dan hebat dalam bidangnya. Ada ibu Diah Sudiredja dari Pokja Hutan Sosial dan Bapak Didik Suharjito Guru besar IPB dan Tosca Santoso sang penulis buku ini. Acara ini di moderator oleh mas Bagja dari Forest Digest

Acara ini dibuka oleh bapak Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Dr Ir Bambang Supriyanto. Bapak Bambang yang mewakili ibu Menteri kehutanan mengatakan bahwa “dari 5.572 izin perhutanan sosial, ada 5.245 izin yang penerimanya membentuk kelompok usaha perhutanan sosial (KUPS). Dari jumlah ini baru 4% (188 unit) yang memiliki unit usaha, memasarkan produk, dan memiliki pasar nasional hingga internasional”. Dilihat data ini memang perhutanan sosial masih banyak kendala dan saat ini banyak dibutuhkan pendamping-pendamping untuk menjalankan usaha sosial dihutan.

Ini diharapkan juga oleh pak Bambang bahwa setiap orang bisa menjadi pendamping dalam hutan sosial. Diharapkan juga orang-orang local, karena dengan orang local ini masyarakat pengelola lebih dekat. “kita akan menyiapkan modul untuk pendamping-pendamping tersebut” ujar pak Bambang lagi.

Dalam buku ini Mas Tosca juga memang banyak bercerita tentang bagaiaman pendampingan-pendampingan masyarakat yang mempengaruhi hutan sosial ini. Cerita hutan sosial ini diambil dari  lima hutan di Indonesia yaitu di Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat, Kabupaten Kerinci Jambi, Gunung Kidul Yogyakarta, Madiun Jatim dan Sarongge, Cianjur, Jabar.

Penjabaran yang seperti story telling dalam buku ini membuat kita tak seperti melihat data tentang hutan sosial tapi mengajak kita merasakan apa yang ada disana. Untuk menulis buku ini, beliau sampai harus ke berbagai daerah dan tidur dimana saja utk mendapatkan informasi langsung dari tokoh perhutanan sosial ini. Buku ini mulai ditulis dari tahun 2018 di bulan oktober. 

Pak Didik Guru Besar IPB bahkan mengatakan “ saya saat diberikan buku ini dikira jurnal ilmiah, eh ternyata ini buku cerita. Saya bisa merasakan apa yang dialami para petani, nelayan dan pelaku dihutan sosial ini”. Selain menceritakan manfaat ekonomi dari perhutanan sosial, buku ini juga mengemukakan beberapa hal yang masih menjadi kendala dalam mewujudkan hutan sosial seperti masalah birokrasi, pendampingan petani, juga modal dan akses pasar

Mas Tosca pun juga mengulik cerita tentang para petani yang berjuang untuk mendapatkan hasil yang berbeda. Ada cerita pak Dudu Durani, petani kopi dari Saronge Cianjur yang harus rela ditinggalkan istrinya demi melihat perkembangan kopi yang dia tanam. “petani-petani dihutan sosial memang butuh pendampingan secara intens, maka dari itu harus banyak peran serta dari banyak hal untuk membantu” ujar mas Tosca.

Saya sendiri membaca buku ini merasakan betul bagaimana nasib menjadi pendamping dimasyarakat yang ingin terus berkembang. Banyak cerita yang bisa kita dapatkan dari buku ini. Bagaimana tertarik membacanya? 



You Might Also Like

0 komentar

Terimakasih sudah coment.. kalau bagus silahkan share tulisan ini... terimakaasihhh