Anak Muda Harus Persiapkan Ini Biar Sehat Jiwanya

October 11, 2018

Hai anak muda jangan suka galau. Karena galau suka bikin orang jadi tambah sedih. Eh beneran? Tapi anak muda memang kadang suka galau, karena mereka masih muda masih menentukan pilihannya, pilihannya banyak sekali loh guys kalo lagi muda. Mulai dari jodoh, kerjaan, apapun itu pasti dipikirin dari muda.

Anak muda memang sangat rentan terkena sindrom stress atau kesehatan jiwanya terganggu. Kadang kita belum bisa menghadapi hal yang tidak bisa kita lawan. Bayangkan saja hampir 30 persen anak remaja terkena cyber bullying. Hal ini dikarenakan hampir anak-anak milenial interaksinya dengan media social masih jarang yang interaksi terhadap dunia nyata. Mulut netizen kadang lebih keras daripada mulut tetangga yang kita kenal.

Berbicara tentang kesehatan jiwa, ternyata WHO sebagai organisasi kesehatan dunia memperingati ini setiap tanggal 10 oktober. Untuk memperingatinya kementrian kesehatan sebagai kementrian yang mengayomi dunia kesehatan di Indonesia mengajak Blogger untuk menggaungkan tema “Young People and Mental Health" In A Changing World"(Generasi Muda yang Bahagia, Tangguh, dan Sehat Jiwa Menghadapi Perubahan Dunia). Pembahasan yang sesuai dengan kondisi anak muda sekarang.

Dalam memperingati hari kesehatan jiwa se dunia kemenkes mengundang dua pembicara yang membagikan ilmunya tentang dunia ini kepada blogger yaitu :
· Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza)
· dr. Eka Viora, Sp.KJ (Ketua PDSKJI Pusat)

Kesehatan menurut UU NO.36 tahun 2009 adalah keadaan sehat baik secara fisik, mental dan spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Oleh karena itu, tidak akan ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa. Hal ini hampir sama dengan penjelasan UU No.18 2014 tentang kesehatan jiwa.

Lalu bagaimana dengan anak remaja?

Menurut WHO Kategori usia remaja dari 10-19 tahun adalah fase yang unik dan formatif. Namun sekarang perhatian kesehatan jiwa remaja berfokus pada usia 15-19 tahun. Akibat perubahan emosi dan sosial mereka, kesehatan jiwa jadi terancam. Sebuah fakta kunci menyebutkan separuh dari kondisi kesehatan jiwa dimulai dari usia 14 tahun, tapi sebagian besar kasus tidak terdeteksi dan tidak mendapatkan pengobatan.

Wow ngeri sekali, apalagi anak remaja sekarang selalu mendapatkan informasi yang mudah dan gampang sekali terpengaruh. Bayangkan saja hampir 84 persen anak mengaku mengalami kekerasan dalam sekolah, 45 persen hampir dilakukan oleh guru atau petugas kebersihan namun paling banyak dilakukan oleh temen sebayanya dan  hampir 75 persen anak sekolah pernah melakukan bullying.

Tindakan yang paling ditakutkan pada kesehatan jiwa remaja adalah bunuh diri. Karena tidak tahan dengan kondisi diri yang semakin mendesak atau akibat dari bullying yang berlebihan. "Setiap 40 detik orang bunuh diri di dunia", jelas Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH. Tak bisa dibayangkan berapa banyak selama 24 jam orang bunuh diri. Biasanya orang akan melakukan hal paling fatal ini berasal dari depresi, satu dari penyebab penyakit dan disabilitas remaja. 

Bunuh diri adalah penyebab kematian pada usia 15- 19 tahun. Estimasi jumlah remaja meninggal dunia sebanyak 62.000 pada tahun 2016. 90% remaja yang bunuh diri tinggal di daerah miskin dan menengah kebawah. Biasanya remaja yang terjerumus dengan narkoba cenderung rentan dengan bunuh diri. 

Emosi di usia remaja memang sedang tinggi-tingginya. Kalau tidak bisa mengelola, bisa terjadi frustasi, depresi  atau marah. Gangguan emosi bisa mengakibatkan prestasi remaja menurun, sering absen dan menarik diri dari teman sebayanya. Bahkan fatalnya bisa memicu bunuh diri. Emosi perilaku masa anak menjadi penyebabnya utama no.6 beban penyakit di antara remaja.  Gangguan ini bisa mempengaruhi pendidikannya. Bisa saja tidak lulus sekolah.

Maka dari itu perhatian di usia remaja memang harus dilakukan. Peran orang tua disini sangat berarti. Anak-anak harus dekat dari orang tuanya. Jangan sampai saat dia butuh perhatian dia tidak mendapatkan peran orang tuanya.

Kemenkes sendiri sudah mengeluarkan buku panduan bagi para calon yang akan menikah untuk bisa memahami pentingnya keluarga. Dalam berkeluarga kita harus siap untuk mengambil resiko mulai dari sebelum menikah hingga tahap membesarkan anak. Semua memang ada ilmunya.

Maka dari itu Kemenkes dalam memperingati hari kesehatan jiwa yang ke 25 ini mengajak kita untuk mempersiapkan diri dalam keluarga. Jangan sampai kita kehilangan peran orang tua dalam melindungi anak-anak dalam cyber bullying dan pengaruh negative dalam dirinya.

Yuk ah persiapkan diri kita ..




You Might Also Like

0 komentar

Terimakasih sudah coment.. kalau bagus silahkan share tulisan ini... terimakaasihhh