Bangga Jadi Keturunan Pangeran Jayakarta, Ini yang Kami Lakukan Menjaga Cagar Budaya Indonesia

November 20, 2019

Tiba-tiba sebuah pesan whatsapp dari seorang teman “ki gue mau ziarah ke makam Pangeran Jayakarta nih, lu ada di rumah ga??” hmm pesan seperti ini memang selalu masuk dari beberapa teman yang ingin mengunjungi makam Pangeran Jayakarta. Terlebih beberapa teman yang memang suka sejarah karena mereka ketika mengunjungi komplek masjid makam membutuhkan info tentang sejarah cagar budaya Indonesia ini.
Pintu Gerbang Masjid Pangeran Jayakarta

Maklum rumah saya memang dekat dengan komplek makam Pangeran Jayakarta dan juga menjadi leluhur saya. Komplek makam ini memang sudah menjadi bangunan cagar budaya oleh pemerintah DKI Jakarta. Makam Pangeran Jayakarta ini menjadi bangunan cagar budaya dari tahun 1999

Pada awalnya komplek makam dan masjid ini tidak banyak yang mengetahuinya hingga akhirnya pada tahun 1960 mulai dilakukan penelitian tentang makam ini. makam ini memang tidak banyak yang tahu karena memang Pangeran Jayakarta ke III ini tidak memberitahu letak persembunyianya.

Tugu Masjid Pangeran Jayakarta

Makam Pangeran Jayakarta ini letaknya di daerah Jatinegara Kaum Jakarta timur. Hampir semua orang tidak tahu tentang letak makam ini dan sejarah kenapa ada Pangeran Jayakarta di daerah sini. Orang yang mengetahui tentang Pangeran Jayakarta hanya tentang petilasannya saja di daerah Mangga Dua Jakarta Barat.

Komplek Makam Pangeran Jayakarta

Menurut cerita dari mamang (paman saya) yang merupakan keturunan ke 17 dari Pangeran Jayakarta . Makam ini memang sudah lama disembunyikan karena janji pangeran untuk tidak membuka tentang keberadaan beliau saat kabur dikejar-kejar belanda. Maka dari hal inilah keberadaan tentang Pangeran Jayakarta terakhir ini tidak diketahui sampai di tahun 60 baru dilakukan penelitian dan diperbaiki

Setelah ditemukannya makam ini, pemerintah menetapkan masjid dan makam ini menjadi benda bangunan cagar budaya. Lambat laun makin ramai orang datang untuk berziarah. Bangunan-bangunan mulai kembali dipugar dan diperbaiki untuk menampung para peziarah yang hadir ke makam ini.

Dalam makam ini terdapat 5 makam yang semuanya adalah keluarga dari Pangeran Jayakarta. Ada makam pangeran Achmad Jaketra (Pangeran Jayakarta III), Ratu Rafiah, Pangeran Surya dan Pangeran Sageri. Makam ini dibangun pendopo untuk warga dan pengunjung yang hendak berziarah di makam ini

Komplek Kuburan 

Saat ini memang  banyak cerita tentang sejarah yang kurang atau hilang karena kurangnya informasi dan tidak adanya orang-orang yang mengetahui tentang sejarah asli dari suatu tempat. Dengan adanya bangunan cagar budaya setidaknya masih ada saksi bisu tentang cerita jaman dahulu kala.

Tinggal dekat dengan cagar budaya memang kita sebenarnya harus ada kepedulian tentang bangunan ini. Entah untuk perawatan atau sekedar cerita bahwa sejarah tidak hilang. Saya sendiri akhirnya pun belajar tentang sejarah Pangeran Jayakarta.

Atap Kubah yang masih asli

Tempat ini sudah memiliki fasilitas yang memadai mulai dari toilet, tempat parkir hingga tempat makan bagi pengunjung yang mau datang. Namun masih ada beberapa kendala seperti kurangnya informasi tentang sejarah Pangeran Jayakarta. Memang orang-orang datang kesini untuk ziarah saja tapi setidaknya kita bisa tahu ada sejarah apa dari makam ini,

Banyak cerita tentang perjuangan Pangeran Jayakarta ini dari kakek dan keluarga besar saya. Mulai dari beliau membangun masjid assalafiyah sebagai tempat mengaji dan syiar agama islam. Apalagi setiap tahunnya di masjid ini diadakan haul (peringatan ulang tahun) yang selalu meriah. Banyak tamu yang hadir bahkan bisa sampai berpuluh bus yang hadir.

Suasana Haul Pangeran Jayakarta 

Cerita Pangeran Jayakarta memang tak terpublikasi dimanapun. Bahkan teman-teman saya banyak baru mengetahui info ini dari saya. Maka saya kadang suka mengajak teman-teman saya mengunjungi makam ini ketika mereka lagi main atau mampir ke rumah saya. Dengan hal ini bagi saya sudah cukup untuk memberikan informasi.

Menurut saya ada beberapa yang harus kita lakukan sebagai warga yang dekat dengan komplek makam ini yaitu :

Menjaga dan merawat

Hal ini wajib banget bagi kita untuk terus menjaga cagar budaya agar tetap lestari dan terus tetap terjaga keasliannya. Apalagi sekarang banyak banget vandalisme yang dilakukan oleh tangan-tangan jahil

Pondasi Jati (Sokok Guru) yang masih ada

Memberikan informasi 

Mungkin ini yang sering saya lakukan ketika teman atau kenalan saya datang mengunjungi komplek makam ini. Mendamping dan mengkisahkan kembali cerita tentang Pangeran Jayakarta dan sejarahnya.
Sharing bersama keturunan ke 16 Pangeran Jayakarta

Rutin mengunjungi cagar budaya

Kenapa ini harus dilakukan? Agar kita selalu cinta dan menjaga terus tentang bangunan ini. hal ini penting untuk menumbuhkan rasa cinta akan warisan budaya setempat, rasa cinta ini kemudian akan menumbuhkan rasa memiliki, sehingga masyarakat akan tergugah untuk menjaga dan melindunginya.

Cagar budaya sebagai warisan kebudayaan di masa lalu memiliki peran penting dalam membentuk kebudayaan Bangsa Indonesia. Maka dari itu kita yang tinggal didekat bangunan cagar budaya harus menjadi yang terdepan dalam menjaga dan mengawasi bangunan cagar budaya. Kelangsungan warisan budaya kita sangat bergantung pada perlakuan kita saat ini terhadap tinggalan tersebut. Upaya pelestarian yang kita lakukan sekarang akan berdampak pada keadaan warisan budaya Indonesia di masa depan.

Kegiatan Tamu Saat kunjungan ke Mesjid Pangeran Jayakarta

Kita sebagai anak milenial harus tetap peduli tentang cagar budaya Indonesia. Harus ada peran aktif untuk merawat dan menjaga cagar budaya seperti menggalakan kegiatan Kunjungan Museum,  melakukan pengawasan pada pemanfaatan dan perawatan terhadap Cagar Budaya, berdiskusi serta seminar dengan tema Cagar Budaya dan nilai-nilainya. Peran serta lainnya juga dapat dalam bentuk promosi dalam bentuk tulisan maupun dokumentasi terhadap Cagar Budaya dan mempublikasikannya pada media publikasi yang ditemukan banyak pada saat sekarang.

Jadi gimana siap menjaga dan merawat cagar budaya? Kalau saya siap karena cagar budaya makam dan masjid Pangeran Jayakarta ini adalah sebagai barang peninggalan dari leluhur saya.

Saya kasih link video vlog saya 

Artikel ini disertakan dalam kompetisi “Blog Cagar Budaya Indonesia:  Rawat atau Musnah!”

Mari ramaikan dengan turut berpartisipasi dan lomba ini


You Might Also Like

4 komentar

  1. Nah salut sama Doel di bagian ini:
    Maka saya kadang tadi suka mengajak teman-teman saya ketika memang mereka lagi main atau mampir ke rumah saya. Dengan hal ini bagi saya sudah cukup untuk memberikan informasinya

    Sudah menunjukkan kepedulian dan adanya tindakan. Menuliskannya di blog pun sebuah tindakan terpuji

    Doel pernah tulis sejarahnya?

    ReplyDelete
  2. Kamu info berjalan ya bang selain nginfoin makan hahaha...itu atap asli sama Sokok guru dari kayu jatinya ya. Kebayang ya bangunan dulu itu kuatnya bukan main. Info yang menambah pengetahuan tentang pangeran Jayakarta ya

    ReplyDelete
  3. Sepakat mari menjaga budaya Dan sejarah karena bangsa yang besar adalah yang bisa menghargai sejarahnya dan jasa para pahlawannya

    ReplyDelete
  4. Cagar Budaya Indonesia memang harus dilestarikan ya bang doel. Sebagai generasi Milenial tentu harus bangga juga dong ya dengan warisan budaya Indonesia yang keren.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah coment.. kalau bagus silahkan share tulisan ini... terimakaasihhh